Maafkan aku tinta, belakangan ini sepertinya aku terlalu munafik dan menutup diri denganmu. Bukannya bagaimana, aku hanya merasa kehilangan dirimu yang ku kenal. Kau berubah sepertinya menjadi dirimu yang kau suka dan aku hanya diam saja setengah tak perduli, setengahnya lagi menutup diri.
Aku menjatuhkan hati padanya sudah lama. Maaf karena itu. Aku tahu apa yang kau pikirkan karena kau lah yang mengajariku cara membaca pikiran orang. Katakan saja aku bodoh. Terserahlah. Tapi aku ingin mengakui aku jatuh hati padanya sudah lama. Sebelum kau mengenalnya malah. Maafkan aku karena itu.
Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan
Minggu, 09 Januari 2011
Kamis, 06 Mei 2010
Saat Menanti Ide
Aku pernah denger dari seorang penulis salah satu koran swasta kalau seorang penulis tidak dapat menulis jika dia tidak dapat membaca. Kunci seorang penulis adalah membaca. That's right, that's true. Memang tidak bisa dipungkiri.
Walau saya masih sangat amatir dalam bidang tulis menulis, tapi 100% setuju mengenai teori membaca untuk menulis. Saat-saat otak saya tidak bisa diajak berkompromi untuk menemukan ide menulis, aku menghindari hal untuk berpikir keras. Takutnya otak saya berakhir seperti otak Patrick Star saat berusaha berpikir keras. Alhasil, aku lebih memilih mengistirahatkan otak dengan membaca buku-buku yang ringan seperti komik, novel, atau majalah.
Memang menyenangkan membaca. Ide dapat dengan mudah datang saat kita membaca. Coba saja kalau lagi tidak punya ide, membacalah saya jamin akan ada ide atau inspirasi datang. Bisa dibilang ide hampir sama dengan sosok cewek, semakin dipaksa dan dikejar maka semakin menjauh (kok kayak lagu ya?-pen).
Belakangan ini saya membaca komik mengenai perjuangan dalm bidang musik. Saya juga pernah membaca tentang pertandingan memasak. Perjuangan ya?? Keren juga. AKu mau mencoba buat side story tentang perjuangan ah.. Doakan saya ya..
Walau saya masih sangat amatir dalam bidang tulis menulis, tapi 100% setuju mengenai teori membaca untuk menulis. Saat-saat otak saya tidak bisa diajak berkompromi untuk menemukan ide menulis, aku menghindari hal untuk berpikir keras. Takutnya otak saya berakhir seperti otak Patrick Star saat berusaha berpikir keras. Alhasil, aku lebih memilih mengistirahatkan otak dengan membaca buku-buku yang ringan seperti komik, novel, atau majalah.
Memang menyenangkan membaca. Ide dapat dengan mudah datang saat kita membaca. Coba saja kalau lagi tidak punya ide, membacalah saya jamin akan ada ide atau inspirasi datang. Bisa dibilang ide hampir sama dengan sosok cewek, semakin dipaksa dan dikejar maka semakin menjauh (kok kayak lagu ya?-pen).
Belakangan ini saya membaca komik mengenai perjuangan dalm bidang musik. Saya juga pernah membaca tentang pertandingan memasak. Perjuangan ya?? Keren juga. AKu mau mencoba buat side story tentang perjuangan ah.. Doakan saya ya..
Label:
Curcol
Minggu, 25 April 2010
Detik-detik Mendebarkan
Emang benar jika banyak orang stress sama yang namanya UN (Ujian Nasional). Curcol ya, actually hari ini my mom's birthday tapi berhubung rasa berdebar menyelimuti kalbu (sok berat bahasanya) jadinya totally hari ini itu ada apa. Jangankan mom's birthday, ke sekolah tadi aja lupa mandi ma sarapan (lebay mode : on).
Sepanjang malam jantung terus berdebar. Terlebih jika ada suara motor lewat depan rumah, parno abis. Melewati tanggal 25 April sih sudah lega. Apa lagi samapai jam 10 pagi belum ada yang nganterin surat kelulusan senanglah. Walau aku tetap saja ke sekolah dengan perasaan was-was.
Sesampainya di sekolah teman-teman mengabariku kalau 4 orang teman kami tidak lulus sekolah. Kaget banget, apalagi setelah tahu 3 diantaranya adalah dari kelas kebangganku yang tercinta. Menganga sesaatlah. Nah, yang bikin kaget adalah salah satu temanku itu rajin banget buat mempersiapkan UN. Tapi dia belum beruntung. Rata-rata nilainya juga udah bagus. Cuman jeblok di pelajaran math.
Waduh-waduh,, betulan deh deg-degan melebihi saat-saat aku mau ujian. Tapi alhamdulillah aku lulus. Tapi tetap aku cemas sama 3 temanku. Aku akan berusaha membantu mereka, mendukung mereka dengan segenap hatiku. Karena kami satu kelas adalah bersaudara.
Sepanjang malam jantung terus berdebar. Terlebih jika ada suara motor lewat depan rumah, parno abis. Melewati tanggal 25 April sih sudah lega. Apa lagi samapai jam 10 pagi belum ada yang nganterin surat kelulusan senanglah. Walau aku tetap saja ke sekolah dengan perasaan was-was.
Sesampainya di sekolah teman-teman mengabariku kalau 4 orang teman kami tidak lulus sekolah. Kaget banget, apalagi setelah tahu 3 diantaranya adalah dari kelas kebangganku yang tercinta. Menganga sesaatlah. Nah, yang bikin kaget adalah salah satu temanku itu rajin banget buat mempersiapkan UN. Tapi dia belum beruntung. Rata-rata nilainya juga udah bagus. Cuman jeblok di pelajaran math.
Waduh-waduh,, betulan deh deg-degan melebihi saat-saat aku mau ujian. Tapi alhamdulillah aku lulus. Tapi tetap aku cemas sama 3 temanku. Aku akan berusaha membantu mereka, mendukung mereka dengan segenap hatiku. Karena kami satu kelas adalah bersaudara.
Label:
Curcol
Langganan:
Postingan (Atom)
